Jalan hidup seseorang barangkali berbeda-beda. Aku sedikitpun tak gelisah, karena inilah kehendak Tuhan yang menginginkan aku kembali ke habitat. Rakyat adalah rumahku”.

Bola matanya nampak tak berkedip ketika memandangi sebuah televisi yang terpajang di dinding kantor Badan Pemenangan Nasional, Palembang. Ketokohan si pemimpin flamboyan, itu sepertinya tetap akan bergelora. Semasa “mengemudikan” kota Palembang dua periode, berbagai terobosan berhasil ia tunaikan. Kebijakan-kebijakan yang pro rakyat menjadi titik fokusnya. Salahsatunya menegakkan program-program pembangunan tanpa melukai nurani rakyat.

Untuk mengetahui persiapannya sebagai calon legislatif terpilih dari Partai Gerindra di Daerah Pemilihan Sumsel I di DPR RI dan siapa sesungguhnya sosok  Ir. H. Eddy Santana Putra, M.T. Senin 29 Juli 2019, Rinaldi Syahril Djafar dan tim Bentarlagi.com mewawancarai lelaki kelahiran 20 Januari 1957 ini.

Apa kabar Kak Eddy (Eddy Santana Putra)…? Baik..Baik.

Boleh cerita sedikit, bagaimana masa kecil dulu? Aku terlahir dari keluarga tentara. Masa kecil, orangtuaku selalu mengajarkan pentinya apa itu nilai-nilai kedisiplinan. Kebetulan bapak aku itu paling kuatir jika anak-anaknya tidak juara di kelas.

Kenangan apa yang kini masih membekas dari ajaran-ajaran Bapak Anda? Sewaktu kecil, aku ingat saat ayahku tekun sekali mengajarkan soal bagaimana menghafal pelajaran dengan cepat. Uji Bapak, coba Eddy baco keras-keras kagek Bapak rekam. Nah, hasil rekaman diputar berulang-ulang. Sampai-sampai hasil rekaman itu diperdengarkan hingga aku tertidur. Besok pagi diulang lagi.

Masih ingatkah kisah sesama kawan sepermainan? Dulunya aku bermukim di dekat hutan. Ya, sangat dekat dengan alam persisnya berdekatan dengan wilayah pabrik PT Pusri. Di waktu anak-anak, aku lebih akrab dengan kehidupan di tepian sungai. Bahkan kami hampir tiap hari mancing atau menjaring iwak hingga ke hutan dan rawa-rawa. Ibaratnya kalau najur iwak gabus. Banyak nian anak-anak iwak gabus di sana. Tetapi, sekarang ..? Duh, sulit sekali kita mau pancing ikan tersebut. Itu yang agak membuat aku sedih. Betapa persoalan lingkungan masih saja jadi perbimcangan di tengah-tengah masyarakat di kota ini.

Tentang anak-anak sungai di kota ini, apa pendapat Anda? Dan, Alhamdulillah rumah orangtua aku itu jaraknya tak jauh dari aliran sungai Selayur. Luasnya ya sekitar 4 hektar. Dahulunya, kawasan ini memiliki pemandangan yang luar biasa. Pepohonan, anak-anak sungai, dan ekosistem lingkungan pun cukup familiar bagi kalangan wong Palembang terjaga dengan baik. Jujur harus aku sampaikan, kondisi sekarang ini tingkat kesadaran kito dalam menjaga lingkungan maupun sungai yang ada belum begitu optimal. Lihatlah, yang dulunya orang tahunya di sini (Palembang) salah satu penghasil ikan gabus. Namun, coba perhatikan, kini kemana kita mau cari spesies iwak gabus? Habitatnya seolah hilang entah kemana. Aku kira ini juga bagian dari persoalan. Sedangkan di luar negeri, tingkat kesadaran dalam mempertahankan serta menjaga lingkungan sekitar sangat tinggi.

Tak lama lagi Anda dilantik menjadi wakil rakyat di DPR RI. Apa yang dipersiapkan? Bagi aku persiapan-persiapan khusus barangkali tak ada yang baru. Namun, yang jelas antara legislatif dan eksekutif ini kan saling bersentuhan. Tugas kita adalah bersiap memperjuangkan provinsi Sumatera Selatan, karena kita wakil rakyat. Tak sampai di situ, yang jelas seorang wakil rakyat akan terus menyuguhkan, menyajikan, sekaligus mewujudkan pemerataan kesejahteraan untuk rakyat Sumsel. Insyaallah. Mohon doanya ya…! (*)