Oleh: Zubaidah Soha (Jemaah Mushalla Baitul Makmur di Bukitbaru)

Sholat ialah berhadap hati kepada Allah sebagai ibadah kekhusukan dan keikhlasan dalam beberapa perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan di akhiri dengan salam menurut syarat-syarat yang ditentukan syara’.

Sholat dapat dilakukan sendiri-sendiri, maupun secara berjamaah. Baik itu di rumah, maupun di Musholla. Sholat yang dilakukan di rumah tidak mengalami kendala, jika dibandingkan dengan sholat di Musholla. Sholat di Musholla banyak sekali kendala yang dapat menganggu ketenangan dan kekhusukan bagi bapak-bapak, ibu-ibu yang sedang beribadah ini disebabkan oleh banyaknya anak-anak yang ikut sholat, namun hanya untuk bermain saja.

Seiring perkembangan zaman, anak-anak sangat bersemangat datang ke musholla untuk beribadah walaupun tidak bersama orangtuanya, namun sangat disayangkan mereka bukannya mau mengerjakan sholat menurut anturan yang telah ditentukan, tetapi hanya datang untuk bermain dan membuat keributan serta mengganggu kenyamanan dan kekhusukkan bagi bapak-bapak dan ibu-ibu yang sedang beribadah. Berapa kali mereka ditegur agar tidak mengganggu orang-orang yang sedang sholat.

Yang namanya anak-anak tetap saja berlari-lari ribut dan keluar Musholla ketika sholat berlangsung. Melihat hal seperti itu kadang-kadang jemaah ada yang kesal dan menegur anak-anak yang keluar masuk ketika sedang sholat, namun mereka tetap saja seperti itu. Dunianya anak-anak memang senang bermain. Kadang kala mereka sholat semaunya saja. Ada yang berkelompok menurut kelompok masing-masing. Ada berdiri di belakang, padahal syaf di depan masih kosong. Ada yang sudah sholat padahal Imam belum mengucapkan takbir merke memang betul-betul belum mengerti bagaimana caranya jika melakukan sholat berjemaah seperti berdiri harus lurus dan rapat.

Bahkan tidak jarang mereka membawa jajanan ke dalam musholla mereka makan seenaknya saja. Sampah-sampah makanan dibuang begitu saja. dengan adanya sisa-sisa makanan yang ada, semutpun banyak yang datang. Jika hal ini tidak diperlihatkan dan dibiarkan saja, lama-kelamaan mereka tidak akan terbiasa dan terlatih untuk menjaga kebersihan sekitar terutama dalam Musholla.

Sedangkan pepatah saja mengatakan “Kebersihan Sebagian dari Iman”. Bagaimana mau bersih kalau kesadaran untuk itu belum ada. Bungkus-bungkus jajanan dibuang begitu saja, begitu juga dengan plastik-plastik air berserakan di sekitar Musholla. Mereka tidak peduli dan belum tersentuh hatinya melihat sampah-sampah bertebaran.

Untuk mengatasi hal diatas, timbul semangat saya untuk mencoba mengajak anak-anak untuk berbuat baik terutama mengerjakan sholat berjemaah dengan tertib di Musholla.

Pertama-tama saya akan lakukan pendekatan dengan cara memberi pengertian agar mereka mau dan ingin mengikuti aturan-aturan dalam sholat berjemaah. Sebagai perangsang untuk memotivasi agar anak-anak dapat mengikuti sholat dengan tertib yaitu dengan jalan pemberian hadiah. Hadiah itu diberikan jika dalam satu minggu berturut-turut tidak ada keributan dan berlari-lari ketika sholat sedang berlangsung. Setiap minggu saya akan menyediakan hadiah walau tidak seberapa

Setelah seminggu berjalan, saya betul-betul merasa senang dengan ketenangan dan ketertiban yang dijanjikan. Mereka mulai berubah sholat tidak lagi membuat kelompok sendiri-sendiri. Tidak ada lagi berdiri semaunya, ada yang berdiri di belakang, padahal syaf didepan masih kosong. Mereka tidak ada lagi berbicara ketika sholat sedang berlangsung. Sebagai aspesiasi saya melihat ketertiban dan ketenangan sesuai dengan aturan, maka saya menepati janji untuk memberikan hadiah kepada mereka satu persatu. Mereka senang bukan main sayapun juga merasa senang dengan cara ini, anak-anak dapat berjemaah dengan tertib.

Untuk minggu selanjutnya saya tetap memantau dan terus mengajak agar dalam melakukan ibadah selalu dalam keadaan tertib. Hadiah tetap saya janjikan. Jika sholatnya mengikuti aturan yang dijanjikan, maka hadiahnya akan ditingkatkan. Ternyata mereka betul-betul berubah dan sholatnya pun tertib. Hadiah saya berikan kembali sesuai apa yang telah saya janjikan.

Minggu ketiga dilalui sholat harus tertib, anak-anak diarahkan kembali agar selesai sholat jangan langsung meninggalkan Musholla dengan begitu saja, namun diajak untuk ikut berdoa dan memberi salam untuk menjalin silaturahim antar jemaah yang ada. Hal ini mendidik agar mereka terlatih menghargai dan menghormati satu dengan yang lain.

Disamping itu, saya pun berusaha mengajak anak-anak untuk menjaga lingkungan, terutama sekitar Musholla. Akibat dari membuang sisa-sisa jajanan dalam musholla semut-semut pun banyak yang datang.

Perlahan-lahan saya lakukan ini, untuk mengajak anak-anak agar betul-betul mau dan ingin mengerjakan sholat berjemaah dengan tertib di Musholla.

Pada awalnya memang sulit mengajak dan meyakinkan anak-anak untuk berjemah dengan tertib. Berkat keyakinan yang kuat, saya coba dengan cara pemberian hadiah. Ternyata dengan cara itu anak-anak termotivasi dan mau mengerjakan sholat dengan penuh ketenangan dan kekhusukan dalam berjemaah terutama anak-anak perempuan.

Terimakasih ya Allah telah membuka pintu hati saya menemukan cara yang baik untuk mengajak anak-anak sholat berjemaah dengan tertib. Mereka betul-betul melakukan itu dengan baik. Hadiah bukanlah segala-galanya bagi anak-anak. Buktinya sekarang tanpa hadiahpun, mereka sudah terbiasa mengerjakan Sholat dengan baik.Untuk selanjutnya saya tetap memantau dan berdoa agar kebersamaandan ketertiban ini tetap dipertahankan.

Begitupun dengan kebersihan lingkungan yang sudah mulai terjaga. Mereka tidak lagi membuang sampah sembarangan. Hal ini dapat dilihat dari perubahan yang betul-betul membanggakan bagi semua orang.

Semoga bertahan sampai kapanpun. Aamiin. (*)