PALEMBANG, BENTARLAGI.COM – Biarpun kecepatan teknologi Ponsel menjajah  generasi terkini. Toh, di bawah bendera Bubaluga terselip niat memugar kecintaan anak-anak pada budaya membaca. Ya. Seperti istana permata, bila selalu dijaga. 

NUN di sebuah komplek perumahan subsidi di Jalan Macanlindungan, Bukitbaru tantangan seakan dimulai. Puluhan ibu-ibu saling bahu-membahu mendekorasi ruangan teras rumah milik Soejati. Dalam benak para ibu-ibu, itu tak lain bagaimana agar teras berukuran sekira 3 x 5 meter yang tadinya dibiarkan kosong, kini dialihfungsikan ‘lahan’ serupa Taman Bacaan Masyarakat.

Bila ditelusuri Bubaluga boleh dikata mengandung makna ‘Budayakan Baca Lupakan Gadged’. Namun, nama Bubaluga juga dimaksudkan Bukit Baru Literasi Keluarga. Bubaluga pun senantiasa tercitra seiring adanya keinginan menciptakan generasi anak-anak produktif agar gemar membaca.

Di Bubaluga, pada Selasa 15 Oktober 2019, anggota plus pengurus Pojok Baca Bubaluga secara gotong royong, itu baru saja merias sudut ruangan Bubaluga. Ini bukan sembarang tata rias, karena syarat dengan cita-cita Bubaluga.

“Kami di sini bersiap melayani anak-anak hingga orang dewasa. Makanya, suasana ruangan dirancang senyaman mungkin,” ujar Ika Ariani, Afni, dan Sri.

Tampilan ruangan Bubaluga diramu sedemikian rupa sehingga dapat memikat anak-anak untuk segera berkunjung. Bukan hanya itu, tampilan Bubaluga menjadi padanan menarik juga sebuah terobosan.

“Ukuran ruangan ini memang kecil. Tetapi, semangat anak-anak luarbiasa. Dan, kebetulan tiap hari anak-anak ngaji di sini. Habis ngaji, baru mereka kita persilakan membaca buku-buku yang tersedia,” ucap Soejati.

Bagai mengharap layar terkembang di tanah Bubaluga. Pekan ke-2 Oktober 2019, atas prakarsa ibu-ibu yang peduli literasi, Pojok Baca Bubaluga akhirnya memeroleh legitimasi dari Dinas Kearsipan dan Keperpustakaan Kota Palembang. Semula kekuatiran akan lambatnya gerakan daya minat baca serta fasilitas di Bubaluga, akhirnya teratasi juga. Alhasil, kini tersedia tak kurang dari 100 judul buku lengkap dengan rak buku tiga tingkat di Pojok Baca ini.

“Seandainya berbicara minat, ya saya yakin setiap orang pasti berminat. Persoalannya apakah membaca itu sendiri sudah jadi budaya di tengah masyarakat..? Nah, membangkitkan budaya itulah yang sebenarnya tugas kita,” demikian disampaikan Ir. H. Gunawan, M.TP, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Palembang, Senin 14 Oktober 2019.

Memang, sambung Gunawan, keinginan melambungkan program gemar membaca sudah dilontarkan sejak beberapa tahun belakangan. Namun dalam perjalanan bisa dikatakan masih menyimpan berbagai kendala. Untuk tujuan suksesnya budaya membaca, maka dorongan kesadaran dari tingkatan paling bawah sangat dibutuhkan.

“Hanya saja kita di era teknologi ini sedang dihadapkan dengan masa peralihan. Bersebab itu perlu pengembangan-pengembangan di program taman bacaan,” cetus pria kelahiran Palembang 18 Desember 1965 itu.

Gunawan sepakat bahwa sampai kapanpun yang namanya gerakan membaca dimulai sejak tidur sampai ajal menjemput. Demi mengoptimalkan budaya baca, kini ditawarkanlah program 1 kelurahan, 1 taman bacaan masyarakat.

“Anda bisa bayangkan 1,7 juta jiwa penduduk di Palembang terdapat 107 kelurahan. Dari rekam data yang kita miliki ternyata tidak semua kelurahan punya pojok baca atau taman bacaan,” kata Gunawan yang menamatkan strata 1 di Jurusan Pertanian, Universitas Sriwijaya tahun 1989.

Selanjutnya ia memaparkan, sebenarnya pencanangan budaya gemar membaca untuk usia produktif dari 14 sampai 35 tahun. Tak mengherankan pula, ketika serangan teknologi informasi begitu cepat merambah generasi muda, Gunawan coba mengalihkan mereka dengan menyuguhkan program wifi fratis.

“Bertepatan 1 Januari lalu, kita suguhkan program wifi gratis. Sasaran kita jelas ingin membuat generasi yang pintar dan cerdas. Selain itu kita berkeinginan ada nilai kesejahteraan untuk masyarakat. Artinya dengan banyak membaca, generasi muda bisa sejahtera,” kata Gunawan yang pernah menjabat Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman tahun 2016-2017.

Bahkan, jika budaya baca dihamparkan ke langit, maka Gunawan adalah bintang yang tak akan kunjung selesai menyinari generasi muda. Pertemuannya dengan berbagai pengurus Taman Bacaan Masyarakat adalah awal sebuah sejarah, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi masa depan anak bangsa.

“Bangga rasanya saya bisa bertatap muka langsung dengan orang-orang yang peduli dengan literasi. Lebih membanggakan lagi lewat agenda program budaya membaca, kesejahteraan pun kian terasa,” ungkap jebolan Strata 2 Universitas Gajah Mada, Yogyakarta di tahun 2001.

Harus dikatakan, lanjut Gunawan, tak ada yang sia-sia di dunia ia sekalipun taman baca yang berdiri di tengah masyarakat merupakan sebuah transit.  Setidaknya, dengan melahirkan serta memugar Pojok Baca Bubaluga membuat banyak pembacanya merasa berhak untuk jatuh cinta. (rsdjafar)