Kabupaten Banyuasin sedang gencar-gencarnya membangkitkan potensi sektor pariwisata, kebudayaan dan lingkungan hidup. Guna memacu peningkatan pendapatan asli daerah di bumi ‘Sedulang Setudung’, itu kini Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata coba melibatkan pelbagai stakeholder. Mulai dari menjalin hubungan kerjasama perguruan tinggi hingga pendonor sektor pariwisata yang ada.  Selain itu, kebangkitan lainnya adalah menumbuhkan sekaligus menciptakan peluang-peluang usaha bagi rakyat Banyuasin. Dan, bagaimana pandangan, terobosan, serta upaya-upaya Merki Bakri SPd Msi selaku Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata Banyuasin dalam membangkitkan ketiga bidang itu? Berikut petikan wawancaranya.

Banyuasin sejak lama dikenal daerah penghasil komoditi perkebunan, karet misalnya. Pendapat Anda?

Itu betul. Tak heran pajak dari sektor perusahaan perkebunan saja bisa triliunan. Potensi produksi hasil perkebunan cukup besar. Makanya tujuh program Pak Bupati, itu saya pikir sangat bisa memajukan Banyuasin. Nah, tinggal lagi bagaimana cara kita memberdayakan potensi yang ada. Kitapun punya keinginan untuk mengundang seluruh perusahaan yang ada agar mau berkontribusi dalam membangkitkan sektor kepemudaan, olahraga, dan pariwisata.

Apa yang amat diperlukan dalam memajukan pariwisata di kabupaten ini?

Kedepannya Pak Bupati ingin membuat lompatan-lompatan besar untuk masa depan Banyuasin. Banyak sekali ide-ide Pak Askolani di bidang kepariwisataan. Guna menggapai itu, jelas kita memerlukan kepala dinas memiliki kemampuan melahirkan ide yang kreatif.

Apa komitmen Anda sebagai kepala dinas?

Saya sampaikan komitmen ke Pak Bupati. Saya hanya butuh 2 tahun untuk membuktikan kemampuan yang dimiliki. Ya, minimal saya bersiap membangun satu lokasi wisata. Sekiranya tak bisa saya wujudkan, lebih baik saya mundur. Untuk apa berlama-lama, toh yang lain juga ingin menunjukkan kemampuannya.

Konsep yang Anda tawarkan di Dinas Anda?

Kami (Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata) sudah merencanakan di Danau Air Batu untuk pengembangan ekonomi kreatif. Sekarang sedang kita tindak lanjuti. Bahkan, saya sudah memetakan beberapa titik objek wisata, di mana di sana juga akan dibangun pusat-pusat kuliner. Kita sudah lihat lokasinya. Ya, yang pasti status tanahnya harus jelas. Barulah kita bicara berapa dana yang dibutuhkan.

Destinasi wisata lainnya yang ingin Anda fokuskan?

Pada kawasan Bom Berlian bakal kita jadikan destinasi wisata air. Belum lagi di Pangkalan Benteng dengan memiliki 12 meter kedalamannya. Itu juga sudah kita jajaki. Tinggal lagi kita akan buatkan MoU dengan pemilik lahan di situ. Ada lagi wisata religius termasuk makam yang ada di daerah perairan Sunsang. Untuk saat ini pun kita siap memugar makam Kiai Mesir yang ada diseputaran Pangkalan Benteng. Lalu, ada juga rencana kita untuk mempatenkan rumah adat  Banyuasin.

Strategi Anda dalam mewujudkan program kepariwisataan?

Bagi saya jabatan kepala dinas itu kan amanah. Dan, seorang kepala dinas itu mestinya berpikir untuk terus mencari solusi investasi. Kita butuh kecerdasan dalam menjalankan program-program yang ada. Makanya dari dulu saya ingin bekerja itu kerja yang ikhlas, cerdas, dan kerja keras. Insyaallah dengan begitu saya optimistis sektar kepemudaan, olahraga, serta pariwisata bisa lebih maju lagi.

Konon sebelum terjun di pariwisata, Anda pernah meniti karir di dunia pendidikan?

Dalam hidup ini saya tak mau menjadi beban bagi orang lain. Makanya, di dalam menunaikan tugas sehari-hari sebagai PNS, saya ingin bekerja sebaik-baiknya. Alhamdulillah, ketika jadi kepala sekolah di Palembang, saya tak mau ada istilah atasan ataupun bawahan. Nah, kata Pak Harto itu…! Enak zaman saya, toh..?

Pendapat Anda tentang kesiapan fasilitas olahraga di Banyuasin?

Pada 2014, Banyuasin  pernah memiliki GOR dengan menalan dana Rp 15 miliar. Namun, sekarang tinggal tiang saja. Agar GOR itu bisa berstandar nasional, maka kita perlukan anggaran sebanyak Rp 65 miliar. Jika memakai APBD, belum ada uang. Untuk itu, kita sudah coba masukan proposal ke CSR perusahaan. Ke pusat pun kita datangi. Belum ada jawaban. Saya berharap di 2020 GOR tersebut siap dibangun.

Apa yang bisa Anda ceritakan soal Wisata Desa di Banyuasin?

Dana yang dikucurkan untuk wisata desa berkisar 10 – 20 persen dari anggaran Dana Desa. Banyak sekali mimpi-mimpi yang kita rancang. Ada kampung kelapa, kampung nelayan, dan kampung-kampung lainnya. Saya melihat Dana Desa itu pun berebut untuk pembangunan masyakat desa.

Pemimpin itu menurut Anda seperti apa?

Saya analogikan pemimpin itu ibarat jari tangan. Ada jempol, telunjuk, jari tengah, jari manis, dan kelingking. Seandainya kepala dinas itu jempol…! Coba angkat gelas memakai jari jempol. Artinya tak mungkin kan gelas akan terangkat? Dia tidak akan disebut tangan tanpa ada jari. Seorang kepala sekolah juga tidak akan ada artinya tanpa ada guru. Jadi, kekompakanlah yang sangat diperlukan oleh seorang pemimpin.

Harapan besar Anda untuk Banyuasin?

Membangun pemuda, olahraga, dan pariwisata itu butuh kreativitas.  Saya ingin mengajak segenap masyarakat Banyuasin mari kita menasionalkan kabupaten ini. Bersebab itu kita memerlukan banyak kerjasama dengan berbagai pihak. (rsdjafar)