Palembang, Bentarlagi.com – Lapangan budminton yang non-franchise terbukti memiliki keasyikan yang membanggakan. Berbekal dari jalan setapak, kini para penghobi bulutangkis leluasa berlatih. Bukan bergantung pada kondisi lapangan, melainkan pada metode latihan.

PARA lelaki setengah baya itu sedang dalam posisi berjajar dan saling berhadapan. Persis seperti orang akan duel. Bedanya, mata mereka tak beradu pandang, tapi tertuju pada bola di tangan wasit. Siapa yang dapat? Tak ada yang tahu pasti. Bola berpindah dengan cepat. Sebuah banner bertuliskan ‘Selamat Datang & Bertanding PB GCS Palembang’ terpajang kokoh di dinding rumah bercat kuning muda. Tak lupa sepasang tropi bergilir serta mi instan untuk sang juara bersusun di tepi lapangan.

Demikian adegan yang kerap terjadi di lapangan badminton terletak di areal perumahan Griya Cipta Sejahtera (GCS), Jalan Macanlindungan, Bukitbaru, Ilir Barat I, Palembang. Di bagian itu, merupakan suasana turnamen Badminton CGS digelar sejak beberapa bulan ini. Peserta turnamen pun berasal dari warga setempat.

“Saat main badminton, kita sama-sama menikmati. Karena kondisi lapangan, ya…terkadang kita juga melawan angin malam,” ungkap Rachmat Noptie yang didampingi Asun, Rico, Herman, Ica, Arwen, Yayan, Sugiarto serta peserta turnamen lainnya. Toh, tak semudah yang dikira, bermain di lapangan badminton yang belum memenuhi standar sepertinya memerlukan insting tajam.

“Ya, buat saya badminton ini kan olahraga yang gentlemen game,” kata Rachmat sambil mengelap peluh yang mengucur di tubuhnya.

Pada Sabtu, 9 November 2019 malam, awan tampak masih menyelimuti perumahan Griya Cipta Sejahtera. Keringatpun menetes di wajah para pemain. Sekujur badannya basah oleh peluh. Tapi, mereka seakan tak peduli dengan tipuan angin di lapangan. Jika dihitung, warga yang berdatangan ke lapangan tersebut jumlahnya berkisar 30 – 40 orang. Semangat sportivitas dan kejujuran serta menjunjung nilai kekeluargaan merupakan salah satu hal yang harus ditumbuhkan oleh setiap pemain.

“Kami menciptakan suasana latihan ini yang menyenangkan, agar kawan-kawan bisa menikmatinya,” cerita Fitriansyah sembari melempar senyum di pinggir lapangan.

Lapangan badminton yang dibangun sekitar Agustus 2019 lalu, itu murni berasal dari swadaya masyarakat. Kendati dari segi ukuran lapangan berada di jalan perumahan, namun begitu kesadaran warga dalam memainkan olahraga badminton cukup tinggi. Nah, itupulah yang membuat mereka ngotot berlatih.

“Sebelum jadi lapangan badminton, dahulunya ini adalah jalan setapak,” ucapnya singkat.

Di lapangan PB GCS itu, kini setiap Jumat dan Sabtu malam, warga di perumahan bahkan rutin menggelar turnamen badminton. Demi si bulutangkis, mereka saling beradu teknik untuk menang. Semuanya berpeluh deras, tapi tak ada yang bisa menghentikan semangat mereka. Badminton pun teramat membuat mereka asyik, meski malam mulai beranjak larut.

Terlepas dari motivasi sebuah lapangan bulutangkis yang ukurannya terbatas, hanya semata untuk mencari keringat, yang pasti olahraga bulutangkis telah menjadi sejarah baru bagi warga di perumahan GCS. Hanya saja, secara keseluruhan lapangan badminton milik warga terkesan kurang diekplorasi maksimal. Tetapi, lagi-lagi, siapa yang butuh keringat untuk bersukaria menikmati badminton…?

“Alhandulillah, sejak adanya lapangan badminton ini silaturahmi antar sesama warga makin terjalin,” disampaikan Syaiful Bahri, Ketua RT 10/ RW 05 Perum GCS.

Malam kian redup karena permainan bulutangkis tampil komunikatif. Sesekali pemain berjumpalitan di atas panggung. Mereka pun saling adu nyali tampil di lapangan berlantai aspal bercampur pasir itu. Dan, seketika lirik Jazz seolah menggema di antara pemain; Are You Happy tonight..? Lansung penonton menyambar “Yeah, aboslutely…! (rs.djafar)