Berasal dari keluarga pedagang, Ardiansyah kelahiran Palembang 16 Oktober 1967 ini terpilih sebagai ‘Panglima’ di organisasi Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kota Palembang periode 2019-2024. Aktivitas dan minatnya dalam menembus bidang pertanian, membuat Ardiansyah semakin optimistis KTNA dapat menjadi ‘imam’ untuk para petani dan nelayan andalan di kota ini. Dua periode mendapat amanah sebagai wakil ketua DPRD Kota Palembang dari Partai Golongan Karya, tak membuat langkah Ardiansyah surut dalam mengibarkan bendera KTNA.

Di tengah jadualnya yang padat—ketika mengawasi persiapan lokasi pelantikan pengurus KTNA Palembang di Balai Tani KTNA Jalan Rimbo Mulyo, RT 37 / RW 08, Talang Betutu, Sukarami pada Selasa 19 November 2019, Ardiansyah meluangkan waktunya untuk menerima tim Media Online Bentarlagi.com, pekan ke-2 November 2019. Dengan gaya bicaranya yang blak-blakan, Ardiansyah bertutur tentang bagaimana arah serta upaya KTNA di masa mendatang. Berikut petikannya :

Apa keinginan terbesar Anda di organisasi KTNA?

Dalam hati kecil, saya ingin sekali organisasi KTNA ini bisa memberikan nilai kemandirian bagi seluruh anggota. Jauh sebelum jadi wakil ketua DPRD Kota Palembang, justru saya Alhamdulillah sudah banyak merasakan pahit manisnya bertani serta berkelompok tani. Sekitar 2002, bahkan saya sudah duluan bercocok tanam, mengelola tambak ikan, dan bertanam buah-buahan. Insyaallah kalau saya akan tetap fokus, organisasi KTNA ini ya kitalah yang menentukan. Fokus dalam artian jika kita hanya mampu beli bibit lima batang, ya lima batang dulu yang ditanam, dirawat, dan dipelihara.

Bagaimana dengan tantangan yang dihadapi KTNA?

Organisasi KTNA itu kan butuh yang namanya saling mendengar, menyimak, dan merasakan. Organisasi itu juga tak bisa jalan sendirian. KTNA milik sama-sama. Jangan salah alamat. Contoh, biasanya kalau mau beli benih ya harganya yang murah, banyak dan berkualitas. Dan, kenapa kita harus beli ke toko tani, sementara di kelompok kita ada benihnya. Saya maunya 16 kecamatan yang ada, mari kita saling berbuat dan berkarya di KTNA. Apa yang kita perbuat, itulah yang kita panen. Jika bibit cabai yang ditanam pasti berbuah cabai, manggis yang kita tanam pasti buah manggis yang kita hasilkan. Betul, kan…?

Upaya Anda dalam membesarkan KTNA?

Mari sama-sama kita berprestasi di KTNA ini. Jangan manfaatkan organisasi ini untuk kepentingan sesaat. Saya tak mau itu. Makanya, yang saya inginkan kita jangan sesekali bermain-main dengan program-program seremonial belaka. Namun, silakan rancang, susun, dan laksanakanlah program yang sifatnya ada unsur keberkelanjutan.

Pendapat Anda tentang program-program untuk masyarakat petani selama ini?

Soal program untuk masyarakat petani ini justru saya mulai sejak di HKTI sekitar 2009. Dulu ada bantuan ke masyarakat berupa seledri. Di mana warga cuma memanfaatkan barang-barang pecahan dan digantung depan pekarangan rumah. Kalau saja tiap rumah menghasilkan 1 ons, jika ada 100 rumah..?. Sudah berapa hasilnya. Lalu ada daun sirih dan bantuan bibit pisang.

Bagaimana Anda melihat tren masyarakat petani terkini?

Kalau ada air sumur, lantas mengapa kita harus membeli air galon…? Artinya apa, kita boleh-boleh saja mengikuti tren yang berkembang, tapi ingat kita jangan lupa untuk memanfaatkan potensi yang ada. Saya melihat ada kecendrungan di masyarakat kita yang latah dengan gaya hidup. Ya, semacam selebriti yang tidak diakui. Kito lihat program hidroponik, mana hasilnya…? Habis nanam berhenti dan tekadang peralatan banyak yang terbengkalai. Penyebabnya adalah karena kita belum mau bersunguh-sungguh dalam bertani. Ya, kalau mau panen hasil mingguan ya silakan bertanam kangkung, kalau mau hasilnya bulanan semestinya bertanam jagung, kalau ingin hasil tahunan ya silakan tanam buah-buahan.

Kondisi masyarakat petani saat ini seperti apa?

Zaman Pak Eddy Santana Putra dulu, ada program bank sampah. Cuma yang bergerak? Hanya ada satu atau dua kelompok saja, hebohnya ke mana-mana. Akhirnya apa, titik geraknya hanya di situ-situ saja. Kelompok tani begitu diekspos yang hadir ada camat, lurah, kepala dinas lengkap berdiri di sana. Sedangkan petaninya kemana…? Itu kan termasuk persoalan.

Soal produktivas hasil pertanian?

Dulu, saya bertanam padi luasnya 10 hektar habis oleh hama burung. Karena apa? Ya karena saya sendirian. Tapi, coba kita bertanam padi dibagi luasnya. Kan hasilnya berbagi rata. Kedepannya saya ingin dalam melangkah di organisasi ini harus ada kesinambungan dan keberlanjutannya.

Mimpi yang hendak Anda wujudkan di KTNA?

Dalam sebuah organisasi jelas ada yang namanya kerjasama antar sesama. Kita akan bersiap menjalankan program 4 tahunan. Kita tak perlu program yang muluk-muluk. Selama ini coba perhatikan, setiap petani mau panen padi, pupuk baru datang. Ujung-ujungnya ya petani selalu menjadi objek. Tidak begitu seharusnya. Saya berharap ada pembinaan dan bantulah sesuai dengan yang dibutuhkan masyarakat petani.

Anda paham betul karakteristik masyarakat petani?

Saya ingin membuktikan bahwa proseslah yang bakal menentukan berhasil atau tidaknya apa yang dikerjakan oleh masyarakat petani. Biarkan mereka berproses. Toh, bicara nilai yang bilang saya ganteng itu kan dari kacamata orang lain. Yang ngomong saya kaya, itu kan wong lain. Kita akan coba menghargai tiap proses yang ada.

Lantas, apa pembeda Palembang dengan daerah lain dalam hal pertanian?

Kota Pagaralam ada Gunung Dempo, ada juga perbukitannya. Saya kira itu biasa-biasa saja, memang sudah topografi wilayahnya seperti itu. Namun, saya akan buktikan pula di Palembang ini juga ada bukit. Nah, ini baru luar biasa. Tetapi, kita juga harus sadar, misalnya kemampuan kita hanya bangun rumah 7 x 12 meter ya jangan bangun rumah 7 x 12 berlantai empat. Itu kan memaksakan kehendak namanya.

Prinsip-prinsip apa yang Anda bawa dalam KTNA?

Saya kira paling utama itu komunikasi dan koordinasi. Tugas saya sebetulnya bersifat menyetujui apa yang diinginkan anggota.

Lalu, bagaimana pola bercocok tanam orang dulu dengan sekarang?

Buat saya enggak ada bedanya, sama saja. Lihatlah tayangan di televisi. Ada edukasinya, ada estetikanya, olahraga, dan hiburannya. Pola bertani juga seperti itu. Kalau di agama Islam, habis Subuh, kita sholat Zhuhur, habis Zhuhur sholat Ashar, habis Ashar sholat Magrib, habis Magrib lanjut sholat Isya, habis Isya ya…sholat Subuh lagi. Begitulah kehidupan ini. Sampai ajal pun kita akan selalu berpedoman kepada aturan itu. Persoalannya adalah apakah kita mau berulang-ulang dengan memeroleh hasil yang tak seberapa. Tentu di KTNA ini kita ingin bersama-sama meriah keberhasilan yang dicita-citakan.

Apa yang harus dimiliki oleh setiap anggota KTNA?

Komunikasi, karakter, loyalitas, dan integritas. Andaikan dari bahasa tubuhnya sudah membuat orang nyaman, artinya dalam diri dia sifat itu adalah masalah, sikap itu adalah tindakan, integritas tersebut adalah solusi. Loyalitas dan kesetiaan sederhana sekali, bagaimana mungkin seseorang loyal dengan organisasi sementara untuk dirinya sendiri tidak pernah loyal. Ibarat jangan payung hanya ada di saat musim hujan, di musim kemarau payung tak lagi berkembang.

Niat Anda Balai Tani KTNA nantinya untuk inspirasi, benarkah?

Saya ingin mengajak 16 KTNA kecamatan yang ada di Palembang untuk menjadikan Balai Tani ini sebagai rumah kita atau orang tua kita. Niat saya memang Balai Tani ini dapat menjadi ruang inspirasi bagi seluruh anggota KTNA. Silakan datang ke sini ya apakah sekadar sharing-sharing pengalaman ataupun berdiskusi.

Kelompok-kelompok tani saat ini apakah sudah berjalan maksimal?

Berjuta-juta pertanyaan, kalaulah tanpa ada bukti. Itu sama halnya dengan kerja omong kosong. Berternak, misalnya. Orang kan tahu ada tidak buktinya. Nah, kita ingin ada sistem yang menata berkesinambungan, terpadu, dan terintegrasi. Ya, saya pikir sudah saatnya juga kita berpikir untuk bersama-sama meraih kemajuan.

Bisa Anda jelaskan bagaimana profesi petani di era sekarang?

Pola berpikir masyarakat petani tentunya didasarkan nilai kemampuan mereka. Mana ada orang yang berani ngomongkan dokter, insinyur, jenderal, dan bupati orang bodoh. Dengan argumentasi jelas bisa kita ukur. Kalau tak percaya, coba dokter suruh mimpin pasukan, insinyur suruh kerja bangunan, jenderal suruh jadi bupati, dan begitu bupati suruh jadi dokter. Apa yang terjadi? Bangunan roboh, uang habis, orang banyak sakit, lama-lama meninggal. Maksud saya, hebat tidak seorang dokter? Ya tidaklah. Karena itu memang profesinya. Yang hebat itu ia sarjana hukum tapi jago bercocok tanam, paham masalah pertanian. Artinya kalau tak mampu berbuat, jangan berbuat. Apa yang didapat? Bukan kemewahan dan kebahagiaan yang didapat, melainkan penderitaaan.

Prinsip hidup yang Anda pegang sampai hari ini?

Saya lahir dan dibesarkan dari keluarga pedagang. Karena hidup di daerah pinggiran, ya otomatis bertani sudah hal yang biasa. Bahkan di tahun 1980-an, saya sudah mendirikan berbagai kelompok tani ada yang di Suka Makmur 1, 2, dan 3. Alhamdulillah, lama-lama makin berkembang. Jujur, dalam hidup ini saya tidak mau menyusahkan orang lain. Jika ada rezeki saya pun Insyaallah bersiap untuk membantu orang lain. (rinaldi syahril djafar)