Palembang, Bentarlagi.com – Forum Sumatera Selatan Sejahtera bersiap menjadi jembatan bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Forum ini terus berupaya menciptakan ekonomi alternatif bagi para pelaku usaha. Tujuan akhirnya jelas ibgib mewujudkan kesejahteraan.

Afandi Mulya Kesuma, Ketua Forum Sumsel Sejahtera (FSS) mengemukakan, ekonomi kerakyatan adalah penopang keberlangsungan suatu negara. Ini sesuai dengan amanat UUD 45, yang berlandaskan ekonomi pada kesejahteraan di pasal 33.

“Bahkan, ketika terjadi “krisis” ekonomi global pada era 1998, akibat ketidakmampuan IMF dan WB dalam mengkontrol pasar yang berdampak pada tumbangnya perusahaan perusahaan besar dan Jasa keuangan maupun pembiayaan (bank) swasta maupun Bank milik Negara. Di situ, pelaku ekonomi kecil atau ekonomi kerakyatan justru mampu bertahan. Mereka tidak terpengaruh sedikitpun terhadap krisis tersebut,” Afandi berkisah

Lanjut Afandi, UMKM mampu melaksanakan proses transaksi jual beli seperti biasa sehingga perputaran keuangan terus berlangsung dan menjadi tumpuan perekonomian negara.

“Tentu berkaca dari fakta itu, FSS nantinya bersiap untuk menjadi wadah sekaligus jembatan bagi pelaku usaha. Kita optimistis FSS dapat bermitra dengan siapapun,” dia berkata.

Selanjutnya FSS, ungkap pria berkacamata itu, mencoba menginvetarisasi pelbagai sektor UMKM. Sejauh mana persoalan-persoalan, kendala, hingga manajemen usaha yang dialami oleh kalangan UMKM. Dengan mengetahui database pelaku usaha diharapkan bisa menjadi corong untuk pelaku usaha.

“Ada banyak sektor ekonomi yang kita sentuh. Justru yang kita inginkan adalah mereka bisa mandiri dan sejahtera secara ekonomi,” diutarakan Afandi.

Memberdayakan pelaku usaha boleh jadi bukanlah pekerjaan yang mudah. Untuk itu, FSS juga berupaya mencarikan solusi bagi pelaku-pelaku usaha yang ada.

“Insyaallah, di FSS ada yang namanya pembinaan berupa pemberdayaan masyarakat hingga bimbingan teknis.

Makanya, FSS juga siap gedor perusahaaan daerah ataupun swasta melalui CSR. Pemerintah juga demikian. Harapan kita pemerintah ayo dong ikut membesarkan pelaku-pelaku usaha,” dijelaskannya.

Guna memastikan berjalannya roda usaha bagi pelaku UMKM, Afandi coba mendatangi beberapa pelaku usaha yang berdiri di kota Palembang. Usaha souvenir khas Palembang, misalnya.

Usaha yang dirintis Kemas Heriansyah di Jalan Letnan Hadin, Kilometer 3,5 Palembang itu kini ternyata menunjukan grafik lumayan menggiurkan. Betapa tidak? Kata Afandi, usaha ini awalnya dengan omset berkisar Rp 10 juta, kini naik berkisar Rp 40 juta hingga Rp 50 juta.

“Itu bukti betapa usaha mikro bukan saja tahan banting, tetapi amat memberikan laba yang menggiurkan,” Afandi setengah promosi.

Pada sektor pertanian, ada banyak usaha-usaha yang bisa dikembangkan. Persoalannya adalah bagaimana mengelola usaha itu bermuara pada manajemen usaha tani.

“Jujur saja, saya cukup bangga dengan usaha bertanam cabai berpolybag yang dikelola kelompok tani Sehati di kawasan Jalan Macanlindungan, Bukitbaru. Usaha pertanaman cabai berpolybag ini idealnya memang harus memikirkan soal pemasarannya. Belum lagi tata kelola usahanya. Nah, FSS sebagai lembaga yang serius di jalur pemberdayaan akan berperan dalam menjembati usaha cabai ini sehingga aktivitas kemandirian dan kesejahteraan bisa terwujud,”  tutup Afandi (rs.djafar)