* Menyaksikan Mutiara yang Terpendam

Banyuasin, Bentarlagi.com- Ratusan warga Sumber Marga Telang saling berdatangan. Ada yang merawat kerinduan, ada juga soal menyembuhkan keinganan mereka. Di ujung sungai Musi, itu rakyat pun menanti kiprah sang nakhoda kapal ‘pembawa’ perubahan ekonomi kerakyatan.

GERIMIS masih menyisakan basah di waktu pagi menjelang siang, Selasa 26 November 2019. Memasuki Lorong Lawang Kidul persisnya di Masjid Lawang Kidul Jalan Slamet Riyadi, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang, yang dihiasi pemukiman padat penduduk membuat sejuk hawa dan hati. Dari kejauhan, suara mesin kapal-kapal dan Jetpoil terdengar lamat-lamat. Sebentar kemudian berganti suara kendaraan di atas Jembatan Musi IV. Lalu berderet sekelompok orang lalu lalang di sepanjang arah ke Dermaga Sungai ‘Masjid Lawang Kidul’.

“Dulu, waktu kecik aku sering diajak main oleh Ebak aku ke sini…!,” sepertinya Eva terkenang dengan masa kecilnya sembari jari telunjuknya mengarah pada sebuah perahu kecil yang melewati Sungai Musi.

Hj Eva Susanti, orangnya murah senyum. Gaya bicaranya yang tertata rapi bak seorang senator sejati. Dia dikenal sebagai tokoh yang selalu menjadi juru damai saudara serumpun di ranah Sumber Marga Telang. Pun jauh sebelum ia terpilih Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia periode 2019-2024, salah satu yang terpenting adalah ketika ia ikut merajut hubungan bersama segenap petinggi adat serta seluruh tokoh yang ada.

Kali itu, Eva Susanti baru saja hendak memenuhi undangan menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun Kecamatan Sumber Marga Telang yang ke-7. Tanpa membuang-buang waktu, Eva—begitu ia biasa disapa, tahu betul sebagai ‘pejuang’ aspirasi rakyat, apa yang harus ia perjuangkan. Seakan ingatannya melayang ke masa lalu. Apakah itu? Senyum mekar pemberdayaan di tengah-tengah Sumber Marga Telang, Banyuasin.

Maka tercetuslah ide di kepala Eva. Satu-satunya cara menaburkan nilai pemberdayaan bagi warga Sumber Marga Telang, dia harus menyuguhkan belasan komoditi tanaman cabai berpolybag (Capsicum annum.L) simbol bahwa pemberdayaan ekonomi bermula dari hal yang terkecil.

Reka perjalanan Eva menuju daerah Sumber Marga Telang memakan waktu hampir tiga jam dengan menggunakan alat transportasi jetpoil 80 PK. Sebelum tiba di lokasi acara Peringatan HUT Sumber Marga Telang ke-7, Eva menyampat diri singgah di kediaman Mang Cik—tokoh masyarakat di Desa Karang Anyar, Kecamatan Sumber Marga Telang, Banyuasin, Eva dipersilakan memasuki rumah.

“Lamo nian Bu Eva, kami nunggu. Kami kiro Bu Eva lah lupo dengan kami di desa ini,” ucap Nyonya Ija dengan logat khas Palembang.

Tapi, ungkapan rasa hormat yang mendalam tak sampai di situ. Seketika pula Eva coba menyampaikan isi hatinya.

“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Bapak dan Ibu-ibu, sampai kapanpun masyarakat Karang Anyar ini selalu di hati saya. Dan, perlu Bapak Ibu ketahui, itu tidak akan pernah saya lupakan. Karena saya sudah menjadi keluarga besar di desa ini. Apalagi saya tahu suara terbanyak saya di saat Pemilu 2019 kemarin ada di sini,” Eva terlihat bahagia.

Setumpuk harapan bahkan kian bergelora di tengah perjumpaan antara Eva bersama penduduk Desa Karang Anyar. Tentunya, kepuasaan penduduk makin tersampaikan lewat hadirnya istri dari Wahyu Sanjaya itu. Dari kesaksian warga, bahwa nama Eva Susanti begitu kental di telinga mereka.

“Hari ini saya datang ke sini selain bersilaturahmi, saya ingin menunaikan janji saya. Apa itu? Jika saya dilantik jadi DPD RI, maka saya ke sini memberikan bantuan untuk membuat pos jaga. Sehingga warga bisa ronda di malam hari demi keamanan dan ketentraman warga,” kata Eva bijak.

Dengan hampir separuh wilayahnya berupa lahan persawahan, warga Sumber Marga Telang sebagian besar menggantungkan hidupnya dari sumber alam ini. Sekitar 85 persen, warga Marga Telang hidup dari pertanian pangan, sisanya perkebunan. Alam ini yang secara alamiah membentuk tradisi bagi rakyat Sumber Marga Telang untuk menjaga tanah mereka dan sumber air melalui berbagai aturan adat.

“Bu Eva yang kami cintai, soal air bersih selama ini menjadi probolem kami. Bayangkan saja setiap kepala keluarga harus beli air bersih, Bu. Tolong ya Bu, kami bersepakat mengusulkan pengadaan sumber air bersih itu,” ucap Darmin, Kepala Desa Karang Anyar, Dusun II, Sumber Marga Telang.

Mendengar gagasan langsung dari penduduk ini, tampak meletik di kepala Eva Susanti. Maka, ia pun meminta agar warga lebih bersabar, sebab Eva bersiap untuk memperjuangan apa yang diinginkan oleh rakyat.

“Doakan ya, nanti saya akan koordinasikan dengan instansi yang terkait,” cetus Eva.

Bila peperangan Napoleon ibarat menimbulkan luka bagi Eropa, perubahan ekonomi kerakyatan yang dipicu oleh kondisi faktor alam di Sumber Marga Telang seperti menggaraminya. Yang membuat rakyat menggemari sosok Eva adalah adanya nilai-nilai perdamaian serta kepuasan yang didapat.

“Alhamdulillah, sesuai janji saya dulu. Bapak-Ibu semua kan pernah meminta untuk dibuatkan pos jaga. Itu Insyaalah saya penuhi,” Eva menyampaikan.

Di luar kepuasan yang didapat oleh masyarakat Sumber Marga Telang, barangkali ada pesan lain yang terkandung saat anjangsana Eva ke Muara Telang. Komitmen Eva dalam memberdayakan kebutuhan ekonomi kerakyatan bagi warga di sana tak bisa ditawar-tawar lagi. Selain itu, dia pun turut membangun rasa kepedulian antar sesama warga.

Tersimpan Mutiara yang Terpendam

Sekira pukul 13.15 WIB, usai berbasa-basi serta penyerahan simbolis tanaman cabai berpolybag dengan penduduk Karang Anyar, Eva selanjutnya menaiki Jetpoil untuk menuju ke lokasi acara Peringatan HUT ke-7 Kecamatan Sumber Marga Telang. Menaiki kendaraan roda dua, Eva begitu menikmati suasana pemukiman di Sumber Marga Telang.

Berjalan dengan sigap, Eva menghampiri satu per satu stand yang ditampilkan di lokasi penyelenggaraan HUT ke-7 Kecamatan Sumber Marga Telang. Ketika berada di stand asal Desa Talang Bubuk, ia menyempatkan diri bercengkrama dengan si penjaga stand.

“Ini berapa harganya? Buatnya di mana…! Wah, tas ini juga bagus,” pandangan Eva mengarah ke berbagai produk yang ada di depannya.

Tak henti-hentinya Eva singgah dari stand ke stand sebelahnya. Bagai subsidi tiada henti dalam sehari penuh. Sebagai tanda mata Eva untuk penduduk Sumber Marga Telang, Eva coba berbelanja aneka produk yang ada di setiap lapak stan. Mulai dari kerajinan tangan, souvenir, produk olahan tanaman nipah, kuliner-kuliner khas Banyuasin, dan banyak lagi produk lainnya.

“Terimakasih Ibu-ibu semuanya. Sayang datang ke sini karena besarnya rasa cinta saya untuk mayarakat Sumber Marga Telang,” suara Eva menggetarkan para hadirin.

Keelokan alam Sumber Marga Telang telah lama membuat Eva jatuh cinta. Tekadnya antara lain menjaga keutuhan dan keindahan kawasan itu. Kekayaan alam Marga Telang memang bak mutiara yang terpendam. Seorang senator yang bersumpah menjaga keindahan wilayahnya memang cerita lama. Tetapi, bila sumpah itu bukan sekedar jargon di bibir, ini memang jarang ada. Justru Eva termasuk ke dalam golongan yang jarang itu.

Jarum jam mengarah ke pukul 15.30 WIB, ini saatnya untuk mengakhiri sebuah parade petualangan Eva Susanti yang kaya akan arti. Saat pulang ke Palembang, di tengah perairan Sungai Musi, suara speedboad hilir mudik sepertinya sedang mengerik keras. Jika disimak selama perjalanan, siapapun akan terpesona dengan aneka lalu lintas perairan. Lantaran kapal ‘Jacky’, PT Pertamina, Kapal Abusamah ada yang bersandar di tengah perairan sungai Musi.

Dan, memang tak semua peristiwa perjumpaan selalu mengagumkan. Namun, setidaknya Eva Susanti telah memperlihatkan idiom karya baru dalam gerakan nyata, ide, serta pandangan terhadap rakyat di ujung Banyuasin sebagai bagian dari ideologi massa.

Betul kata orang-orang Sumber Marga Telang, kini Eva bagaikan ‘orang tua’ angkat masa depan yang tiada bandingnya.(rinaldi syahril djafar)